3 Kunci Kesuksesan Generus LDII - LDII mempunyai 3 kunci dalam meraih kesuksesan, biasa disebut tri sukses generus LDII, ini merupakan hal yang memang sangat dibutuhkan dalam generus LDII. generus LDII wajib dibina sedini mungkin agar target dalam mencapai Tri Sukses Generus ini bisa tercapai pada setiap Generus LDII.
Generasi penerus yang inilah yang akan meneruskan tongkat estafet perjuangan agama maupun memperjuangkan kehidupan pribadi sebagai makhluk sosial yang akan hidup di tengah masyarakat.. Dan ini dapat terlaksana apabila generasi penerus merupakan generasi yang ideal apabila berhasil memenuhi tiga kriteria yaitu :
1. Memiliki Akhlaqul karimah (berkelakuan baik/budi luhur)
Salah satu misi Rosululloh adalah menyempurnakan akhlak yang mulia dan beliau sendiri telah menunjukkan keteladanannya kepada umatnya dengan akhlaqul karimah di dalam memimpin umat, menjalankan dan menyiarkan agama Alloh. Oleh sebab itu sudah selayaknya sebagai generasi penerus Muslim harus memiliki akhlaqul karimah dan menghindari su’ul khuluq (Akhlak yang jelek). Akhlak yang mulia adalah akhlaknya orang iman, akhlaknya ahli surga dan akhlak yang dicintai oleh Alloh. Dengan akhlak yang mulia remaja sebagai generasi penerus akan menjadi orang yang terhormat dan kehadirannya akan diterima dengan baik oleh lingkungan masyarakat.
Al Qur’an surat Al Ahzaab ayat 21,
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآَخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
Artinya :“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rosululloh itu suri tauladan yang baik (yaitu) bagi orang yang mengharap (ketemu) Alloh dan (kebahagiaan) di hari kiamat dan dia banyak dzikir kepada Alloh”
Al Qur’an surat Al Qolam ayat 4,
وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ
Artinya :“Sesungguhnya engkau (Muhammad) niscaya memiliki akhlak yang mulia”
انما بعثت لاءتمم صالح الاخلاق* رواه البخارى عن ابى هريرة
Artinya :“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia” (HR Bukhori dari Abi Huroiroh)
عليك بحسن الخلق فان احسن الناس خلقا احسنهم دينا رواه الطبراني عن معذ
Artinya : “Tetapilah ahlak yang baik, sesungguhnya manusia yang lebih baik akhlaknya lebih baik pula agamanya”
ان مكارم الاخلاق من اعمال اهل الجنة * رواه ابن ابي دنيا
Artinya :“Sesungguhnya akhlak yang mulia termasuk amalannya ahli syurga”
ان الله تعلى يحب مكارم الاخلاق ويبغض سفسافها * رواه ابن ابي دنيا
“Sesungguhnya Alloh yang maha luhur senang kepada akhlak yang mulia dan membenci akhlak yang hina”
ان الرجل ليدرك بحسن الخلق درحة القائم الصائم* رواه احمد عن عائشة
Artinya : “Sesungguhnya bagi seseorang, dengan akhlak yang baik akan mencapai derajat ahli sholat dan ahli puasa”
Sebagai contoh tentang akhlak yang baik dan mulia, baik menurut pandangan manusia maupun agama (Qur’an Hadits) adalah : berbicara dan berbahasa yang baik, tata krama, sopan santun, unggah ungguh, papan-emapan-adepan, jujur, amanah, bisa dipercaya, silaturrohim, menghormat dan mengagungkan kepada orang yang lebih tua, dan khususnya berbakti kepada orang tua dan berusaha untuk menyenangkan hati mereka, dan lain-lain. Adapun contoh budi pekerti yang jelek adalah : berdusta, menipu, ingkar janji (khianat), sombong, menghina, dengki, meremehkan, drengki, iri hati, dendam dan lain-lain perbuatan yang bisa merugikan diri sendiri maupun orang lain.
2. Alim dan Faham agama (Faqih)
Berpegang kepada sabda Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam, bahwa :
العلم حياة الاسلام وعماد الائميمان * رواه ابو الشيخ عن ابن عباس
Artinya :“Ilmu (Qur’an Hadits) adalah hidupnya Islam dan tiangnya keimanan”
تفقهوا قبل ان تسودوا * رواه البخاي
Artinya :“Mencarilah kepahaman (agama) sebelum kalian semua diserahi suatu tanggung jawab”
Maka tidak bisa ditawar lagi bahwa generasi penerus harus menjadi orang alim (memiliki ilmu Qur’an Hadits) dan memiliki kepahaman yang tinggi sebagai persyaratan utama untuk kelangsungan Qur’an Hadits ila. Sebab remaja yang bodoh dan tidak paham agama bukan ahlinya untuk diserahi tanggung jawab mengurus agama ini dan pasti akan merusak masa depan dan kelangsungan Qur’an Hadits. Lihat dalil-dalil dibawah ini:
ان الله لا يقبض العلم انتزاعا ينتزعه من العباد ولكن يقبض العلم بقبض العلماء حتى اذا لم يبق عالما التخذ الناس وئوس جهالا فسئلوا فافتوا بغير علم فضلوا واضلوا * رواه البخاى عن عبدالله ابن عمرو بن العاص
Artinya :“Sesungguhnya Alloh tidak akan mencabut ilmu yang telah diberikan kepada hambaNya dengan mencabut ilmu tersebut, akan tetapi Alloh mencabutnya dengan cara mewafatkan para ulama’. Sehingga manakala tidak tersisa seorang alim pun maka manusia mengangkat pemimpin orang-orang yang bodoh (tidak paham), ketika mereka (pemimpin bodoh) ditanya, maka mereka akan memberi fatwa tanpa dasar ilmu, maka mereka sesat dan meyesatkan”
اذا وسد الامر الى غير اهله فانتظر الساعة * رواه البخارى عن اب هريراة
Artinya : “Ketika suatu perkara diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah saat (kerusakannya)”
3. Mempunyai ketrampilan untuk hidup mandiri
Generasi tua tentunya ingin meninggalkan generasi penerusnya dalam keadaan yang kuat, baik jasmani, rohani maupun ekonominya dan tidak ingin meninggalkan generasi penerusnya dalam keadaan yang lemah dan du’afa. Karena dengan dukungan ekonomi yang mantap, selain bisa untuk mencukupi keperluan hidupnya, urusan ibadah dan perjuangannya juga menjadi lebih lancar. Apalagi di zaman akhir seperti ini, baik urusan dunia maupun akhirat diperlukan biaya dan dana yang cukup banyak. Pepatah mengatakan Jer Basuki Mawa Beya. Selain itu jika remaja Islam bisa mandiri, maka mereka akan lebih percaya diri, karena tidak bergantung kepada orang lain dan pada akhirnya bisa lebih semangat dalam memperjuangkan Qur’an Hadits tanpa harus didikte dan dipengaruhi oleh orang lain yang tidak beriman. Lihat dalil-dalil di bawah ini :
انك ان تترك ورثتك اغنياء خير لهم من ان تتركهم عالة يتكففون الناس * رواه النسائي عن سعد
Artinya :“Sesungguhnya jika engkau meninggalkan ahli warismu dalam keadaan kaya itu lebih baik daripada engkau meninggalkan ahli warismu dalam keadaan melarat dan meminta-minta kepada orang lain”
اذا كان في اخر الزمان لا بد للناس من الدراهم والدنانير يقيم الرجل بها دينه ودنياه * رواه الطبرانى عن المقدام
Artinya :“Ketika telah berada di zaman akhir, maka tidak bisa tidak (pasti) bagi manusia harus memiliki dirham-dirham dan dinar-dinar, untuk mengakkan agamanya dan dunianya dengan dirham-dirham dan dinar-dinar itu”
Untuk mencapai keberhasilan tersebut tentunya tidak lepas dari peranan berbagai pihak terutama peranana orang tua. Karena bagi orang tua mempunyai anak adalah amanat yang harus dididik dan diramut tentang agamanya dan akan dimintai pertanggungjawaban sampai dihadapan Alloh nanti. Di tangan orang tua watak dasar dan kepribadian anak akan terbentuk. Lihat dalil di bawah ini
كل انسان تلده امه على الفطرة وابواه بعد يهودانه وينصرانه ويمجسانه فان كانا مسلمين فمسلم * رواه مسلم عن ابى هريرة
Artinya :“Tiap-tiap manusia dilahirkan oleh ibunya atas fitroh (bersih dari dosa), kemudian setelah itu kedua orang tuanya yang menjadikan anak itu yahudi, nashroni, atau majusi. Jika kedua orang tuanya Islam, maka seharusnya anaknya juga Islam”
Dalam hal ini, kedua orang tua sudah semestinya paling termotivasi untuk membimbing dan mendidik kepada anak-anaknya. Orang tua sama sekali tidak boleh dayust, sembrono, embuh ora weruh terhadap pendidikan anak-anaknya. Orang tua harus mengontrol dan mengevaluasi proses pendidikan anak-anaknya untuk menjadi anak yang sholih dan sholihat. Perhatikan dalil-dalil di bawah ini :
ياايها الذين امنوا قوا انفسكم واهلكم نارا * سورة التحريم 6
Artinya :“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan ahli kalian dari api neraka…”
حق الولد على الوالد ان يعلمه الكتابة والسباحة والرماية وان لا يرزقه الا طيبا * رواه البيهقي عن ابي رافع
Artinya :“Kewajiban orang tua terhadap anaknya yaitu mengajarkan tulis menulis, berenang, memanah dan tidak memberi rezeki kecuali yang baik (halal)”
لان يؤدب الرجل ولده حير له من ان يتصدق بصاع * رواه الترم ذى عن جابر بن سمرة
Artinya :“Sesungguhnya bahwa seseorang memberi pelajaran budi pekerti kepada anaknya itu lebih baik baginya daripada mengeluarkan shodaqoh satu sho’.
مروا الصبي بالصلاة اذا بلغ سبع سنين واذا بلغ عشر سنين فاضربوه عليها * رواه ابو داود عن سمرة
Artinya :“Perintahlah anak kecil untuk mengerjakan sholat ketika menginjak umur 7 tahun, dan ketika telah berumur 10 tahun maka pukullah dia untuk mengerjakan sholat”
اربع من سعادت المرء ان تكون زوجته صالحة واولاده ابرارا وخلطاؤه صالحين وان يكون رزقه في بلده * رواه ابن عساكر عن على بن ابى الدنيا
Artinya :“Ada 4 (empat) perkara yang merupakan kebahagiaan/keberuntungan seseorang yaitu bahwa istrinya adalah wanita yang sholihat, anak-anaknya berkelakuan yang baik, teman bergaulnya yang sholih dan rezekinya (mata pencahariannya) di negeri sendiri”
اذا مات الانسان انقطع عنه عمله الا من ثلاثة اثياء من صدقة جارية او علم ينتفع به او ولد صالح يدعوله * رواه ابو داود عن ابي هريوة
Artinya :“Ketika manusia telah mati maka putuslah darinya semua amalnya kecuali tiga perkara. Yaitu : shodaqoh jariyah, ilmu yang dimanfaatkan dan anak yang sholih yang selalu mendoakan/memintakan ampun kepadanya”
Anak yang sholih sholihat merupakan tambang emas bagi kedua orang tuanya, baik di dunia maupun di akherat. Tetapi sebaliknya apabila orang tua lengah dan sembrono dalam mendidik mereka sehingga mereka akan menjadi anak yang durhaka. Semestinya anak menjadi permata hati akan berbalik menjadi musuh yang menyengsarakan di dunia dan akherat. Dalam hal ini Rosululloh pernah memberi peringatan dalam sebuah hadits :
ليس عدوك الذي ان قتلته كان لك نورا وان قتلك دخلت الجنة ولكن اعدى عدولك ولدك الذى خرج من صلبك ثم اعدى عدو لك مالك ال ى ملكت يمينك * رواه الطبرانى عن ابى مالك الاشعرى
Artinya : “Musuhmu bukanlah seseorang yang jika engkau bunuh maka bagimu adalah cahaya dan bukanlah seseorang yang jika membunuhmu maka engkau masuk syurga, tetapi musuhmu (yang paling besar) adalah anakmu yang keluar dari tulang rusukmu dan harta yang kamu miliki”
Peranan para pemimpin-pemimpin dalam memberikan dukungan, motivasi, perhatian dan keseriusan terhadap kegiatan-kegiatan generasi muda sangat menentukan juga di samping peranan orang tua. Nasehat-nasehat yang baik, yang menyejukkan dan yang dapat menambah semangat ibadah dan perjuangan juga sangat diharapkan.
Jajaran pengurus terutama para pengurus di tingkat takmir masjid harus dapat membantu dan memperkuat program yang diadakan untuk pembinaan generasi penerus. Sarana dan prasarana untuk kelancaran program pendidikan dan pembinaan ini sangat mempunyai arti yang cukup penting. Wahana-wahana yang sesuai dengan jiwa muda yang tetap dalam koridor tuntunan Qur’an Hadits perlu diperhatikan.
Peranan para ulama, muballigh dan muballighot sangat penting sekali, karena dari mereka para generasi muda menyerap ilmu Qur’an Hadits sebagai bekal untuk melaksanakan kewajiban ibadah dan perjuangan. Semangat, kesabaran, dan ketelatenannya dalam menyampaikan ilmunya, dan mampu memberikan contoh-contoh perilaku yang baik sehingga bisa menjadi panutan dan tokoh idola bagi para remaja dan generasi muda.
Peran serta para pakar pendidik sangat diharapkan bisa mengejawantahkan metode-metode dan model dalam pendidikan dan pembinaan generasi penerus yang baik, benar dan efektif sehingga ilmu-ilmu yang sudah jelas benarnya (Qur’an Hadits) dan jelas menguntungkan bisa diterima dengan senang hati, bangga dan penuh antusiasme oleh para remaja dan generasi muda dalam mencapai tujuan dan keberhasilan yang nyata sesuai dengan harapan.
Keutamaan Puasa Hari Arafah Pada Bulan Dhulhijjah - Ada keutamaan yang sangat besar pada puasa hari arafah, yang mana puasa arafah ini dilaksanakan pada hari kesembilan pada bulan dhulhijjah. para ulama telah sepakat puasa hari arafah itu lebih utama dibandingkan dengan beberapa hari yang lain, sebagaimana hadits dari rasulullah : Puasa hari arafah aku mengharapkan allah mengapus dosa-dosaku setahun sebelum puasa dan setahun setelah puasa.
Maka kita di anjurkan untuk berpuasa di hari arafah tanggal 9 dzulhijjah yang akan menganggkat derajat kita, memeperbanyak kebaikan-kebaikan dan menghapus kejelekan-kejelekan.
Kenapa puasa arafah menghapus kejelekan ?
Maka kita di anjurkan untuk berpuasa di hari arafah tanggal 9 dzulhijjah yang akan menganggkat derajat kita, memeperbanyak kebaikan-kebaikan dan menghapus kejelekan-kejelekan.
Kenapa puasa arafah menghapus kejelekan ?
Selain orang yang haji di sunahkan untuk mengerjakan puasa hari arafah, karena besarnya fahala puasa hari arafah yang menghapus dosa setahun sebelum dan sesudah puasa. Yang di maksud dengan menghapus dosa adalah, menghapus dosa-dosa kecil selain dosa-dosa besar. Dihapusnya dosa-dosa kecil dengan syarat meninggalkan dosa-dosa besar. Sebagaimana firman allah dalam surat annisa :
Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil).
Puasa arafah di sunahkan bagi orang-orang yang tidak mengerjakan haji, adapun orang yang mengerjakan haji wajib untuk mempersungguh ibadah, doa,karena waktu wukuf adalah waktu yang sangat mulia.
Keutamaan Puasa Hari Arafah Pada Bulan Dhulhijjah
Menyembelih Hewan Qurban Dengan Syariat Islam - Wah sebentar lagi kita akan menyambut hari raya qurban, yang dimana bahwa tidak ada pahala yang lebih baik selain mengalirkan darah. Kami akan memberikan informasi mengenai bagaimana Menyembelih Hewan Qurban Dengan Syariat Islam.
Sahabat baro’ meriwayatkan hadits tentang bagaimana rasulullah menyembelih hewan qurban dan menjelaskan bahwa abu burdah hanya bisa menyembelih qurban seekor kambing yang umurnya sangat muda.
dan Nabi bersabda “Sesungguhnya awalnya sesuatu yang aku kerjakan di hari raya adha adalah shalat, kemudian pulang dan menyembelih qurban, barang siapa yang mengerjakan pada demikian itu berarti mencocoki sunahku, dan barang siapa yang menyembelih sebelum shalat itu adalah daging yang di dahulukan untuk keluarganya bukan dari menyembelih qurban, abu burdah berdiri dan dia termasuk orang yang telah menyembelih sebelum shalat, lantas dia berkata “ aku hanya mempunyai kambing yang masih muda ( sekitar umur 5 bulan ) “ nabi berkata “ sembelihlah dan setelah ini tidak mencukupi bagi seseorang setelahmu.
Praktek Menyembelih Hewan Qurban
Praktek menyembelih hewan qurban pada zaman rasulullah adalah setelah melaksanakan shalat idul adha, bukan sebelumnya, kalau praktek menyembelih qurban sebelum shalat maka sembelihannya bukan qurban. Rasulullah menjelaskan dalam riwayat anas bin malik :Nabi bersabda pada hari menyembelih qurban “ barang siapa yang menyembelih sebelum shalat maka supaya mengulangi.Rasulullah ketika menyembelih hewan qurban memilih kambing gibas yang gemuk, dan kambing yang benar-benar sesuai syariat, berikut ini adalah dalil yang menggambarkan prosesi penyembelihan qurban rasulullah :
Anas berkata “ rasulullah menyembelih dua kambing gibas yang gemuk dan bertanduk, nabi menyembelih dengan tangannya ( menyembelih qurbannya sendiri ) sambil membaca bismillah dan takbir dan meletakan kakinya di lambungnya hewan qurban.
Menyembelih Hewan Qurban Dengan Syariat Islam
Merasa Cukup Didunia dan Akhirat, Ternyata Berbeda - Merasa Cukup, Dulu kala SD, pulang dan pergi biasa dengan jalan kaki. Rasanya senang sekali. Bareng teman – teman sebaya penuh riang dan canda. Bangga, dunia seakan sama di sana – sini. Menginjak SMP, saya masih setia dengan berjalan kaki. Hanya jarak kian bertambah. Sejauh 4 km saya lahap sekali jalan. Terkadang pengin rasanya punya sepeda seperti teman – teman lain yang bisa pulang – pergi sekolah dengan bersepeda. Saat SMA lain lagi, banyak teman yang pulang – pergi sekolah dengan sepeda motor.
Sementara saya tetap setia dengan langkah kedua kaki lincah ini. Muncul bayangan betapa indahnya bisa bersekolah dengan naik motor. Di samping keren, juga akan mendapat perhatian dan pemujaan dari khalayak. Termasuk lirikan dari lawan jenis. Siapa yang gak pengin? Memasuki dunia kuliah pun serupa. Tatkala diri ini masih seperti dulu, datang mahasiswa lain yang kuliah dengan roda empatnya. Bahkan sampai di dunia kerja pun tak jauh berbeda. Ketika diri mulai menjinjing kaki di pedal sepeda motor, yang lain sudah memanjakan kaki, melaju di sebuah mobil mewah atau deru motor gede barunya.
Begitulah kehidupan bertutur, selalu ada godaan yang mengelilingi manusia pada semua tingkatan, walau dengan varian yang berbeda. Orang selalu bilang, di atas langit ada langit. Tak ada habisnya. Yang miskin, yang menengah dan yang kaya, yang nganggur maupun yang kerja tak terkecuali. Tak ada yang kebal godaan. Pedagang, pengusaha, pegawai, pejabat, petani, tentara, supir, penekun spiritual sampai dengan tukang sapu, tidak sedikit kepalanya yang diisi oleh gambar-gambar hidup agar cepat kaya. Yang jelas, pilihan menjadi kaya tentu sebuah pilihan yang bisa dimengerti. Terutama dengan kaya manusia berpikir bisa melakukan lebih banyak hal. Sebaliknya, emoh menjadi miskin. Sebab miskin identik dengan penderitaan, kekurangan dan ketergantungan. Soal jalur mana untuk menjadi kaya yang akan ditempuh, pilihan yang tersedia juga amat melimpah. Dari mulai berdagang, jualan asuransi, ikut MLM, memimpin perusahaan, jadi pengusaha atau karyawan, sampai dengan jadi pejabat tinggi.
Itulah kesenangan hidup di dunia, sebagaimana Allah pesankan dalam KitabNya; “Dijadikan indah pada pandangan manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). “ (QS Ali Imron : 14). Gelombang pikiran – pikiran seperti itu akan selalu datang mengejar – ngejar manusia setiap saat. Di sisi lain, kesenangan – kesenangan itu selalu hadir menggelayut di bentang samudra angan, menebar pesonanya kepada setiap insan. Laksana hipnotis yang akan terus menyihir manusia untuk masuk ke dalamnya. Bahkan tak jarang jalan - jalan pintas menjadi pilihannya. Rumusnya; pengin instant: serba cepat gak mau lambat, pengin sesegera mungkin gak mau berlama - lama, pengin senang terus tak mau payah dan serba gampang gak mau sulit. Ya, kesenangan yang membujuk. Tak ada yang selamat, kecuali orang - orang yang eling lan waspada.
Sampai kapan pun, manusia akan terus diombang-ambingkan ombak kehidupan yang bernama keinginan. Sayangnya, banyak yang kandas. Apa yang diinginkan, lain dengan apa yang didapatkan. Alih – alih berpuas diri, malah makin menggila dan lupa diri; senang dunia dan takut akan mati. Oleh karena itu, para penekun kehidupan sering mengingatkan dengan elegannya akan bahaya kehidupan seperti ini. Ada satu hal yang banyak dilupakan orang yaitu pentingnya memiliki rasa cukup.
Dalam bahasa lain, seorang bijak dari timur pernah menganjurkan sebuah jalan kehidupan yang penuh dengan kedamaian, dengan mengatakan: contentment is the greatest wealt - rasa cukup adalah kekayaan terbesar. Tentu agak unik kedengarannya. Asing di telinga. Terutama di zaman yang serba penuh dengan hiruk - pikuk pencarian keluar. Menyebut rasa cukup sebagai kekayaan manusia terbesar, tentu dikira mengada - ada dan bisa dituduh gila. Padahal Kanjeng Nabi Muhammad SAW sudah berabad – abad lalu mengingatkan pentingnya memiliki rasa cukup ini untuk menghadapi dahsyatnya hantaman gelombang samudera kehidupan dunia. Rasulullah SAW bersabda: “Ridlalah dengan apa yang Allah bagikan buatmu, kamu akan menjadi orang terkaya”. (Rowahu Imam Turmudzi 3/377/2407). Apapun jika diliputi dengan rasa cukup, akan tampak luar biasa. Dalam riwayat lain, Rasulullah SAW bersabda: “alqana`atu maalun laa yanfadu wa kanzun laa yafnaa”. Artinya: “Qana`ah itu adalah harta yang tak akan hilang dan pura (simpanan) yang tidak akan pernah lenyap.” (Hadis dirawikan oleh Thabrani dari Jabir).
Banyak orang yang mengartikan salah - kaprah maksud rasa cukup di sini. Ada yang mengira menganjurkan kemalasan, ada yang menuduh sebagai antikemajuan. Dan tentu saja tidak dilarang untuk berpikir seperti ini. Hanya, bagi setiap pejalan kehidupan yang sudah mencoba serta berjalan jauh di jalur-jalur "cukup", segera akan mengerti, memang merasa cukuplah kekayaan manusia yang terbesar. Bukan merasa cukup kemudian berhenti berusaha dan bekerja. Sekali lagi bukan. Terutama karena hidup serta alam memang berputar melalui hukum-hukum kerja. Sekaligus memberikan pilihan mengagumkan, bekerja dan lakukan tugas masing-masing sebaik-baiknya, namun terimalah hasilnya dengan rasa cukup. Rasa cukup tak lain adalah perwujudan dari ridha sebagaimana hadits di atas.
Dan ada yang berbeda jauh di dalam sini, ketika tugas dan kerja keras sudah dipeluk dengan perasaan cukup. Tugasnya berjalan, kerja kerasnya juga berputar. Namun rasa syukurnya mengagumkan. Sekaligus membukakan pintu bagi perjalanan kehidupan yang penuh kemesraan. Dalam terang cahaya pemahaman seperti ini, rupanya merasa cukup jauh dari lebih sekadar memaksa diri agar damai. Awalnya, apapun memang diikuti keterpaksaan. Namun begitu merasa cukup menjadi sebuah kebiasaan, menjadi tabiat, terpatri, manusia seperti terlempar dengan nyaman ke dalam hening gelombang samudra kehidupan.
Boleh miskin, tetapi dengan memiliki rasa cukup yang berlimpah akan merasa syukur yang pol menjadi orang miskin. Istiqomah dengan jalan hidupnya dan bahagia sepanjang waktu. Kemiskinan bukan suatu beban, melainkan pilihan dari Yang Esa. Persis seperti apa yang dikatakan oleh sahabat Abu Darda ra., “Para pemilik harta makan dan kami juga makan, mereka minum dan kami juga minum, mereka berpakaian kami juga berpakaian, mereka naik kendaraan dan kami pun naik kendaraan. Mereka memiliki kelebihan harta yang mereka lihat dan dilihat juga oleh selain mereka, lalu mereka menemui hisab atas harta itu sedang kita terbebas darinya.” (Al-Qana’ah, mafhumuha, manafi’uha, ath-thariq ilaiha, hal 24-30, Ibrahim bin Muhammad al-Haqiil). Yang hidup menengah lagi pas – pasan pun demikian. Jika rasa cukup telah melingkupi, yang ada hanya syukur dan syukur menjalani kehidupan ini dengan riang - gembira. Ibadah mempeng, tirakat banter dan bekerja keras lagi dengan sungguh – sungguh. Rasulullah SAW bersabda; ”Sungguh beruntung (bahagia) orang yang ditunjukkan (diberi hidayah) kepada islam dan diberi rizqi yang pas-pasan dan menerima dengan hal tersebut”. (Rowahu Imam Muslim 2/730/1045; Tirmidzi 4/6/2452; Ibnu Majah 2/13/16/4138).
Adapun yang kaya, jika telah memiliki rasa cukup yang dalam, tak akan terpengaruh dengan kekayaannya. Rasa cukup menyetirnya untuk mengatur kekayaan di jalan – jalan kehidupan ini sesuai aturan dan petunjukNya. Tidak pelit, tidak boros, suka sedekah dan infaq fi sabilillah. Semua kewajiban dilaksanakan dan semua hak – haknya dipenuhi. Sampai – sampai orang pun iri melihatnya. Dari ‘Abdullah bin Mas’ud ra., ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tidak boleh hasad kecuali pada dua orang, yaitu orang yang Allah anugerahkan padanya harta lalu ia infakkan pada jalan kebaikan dan orang yang Allah beri karunia ilmu (Al Qur’an dan As Sunnah), ia menunaikan dan mengajarkannya.” (Rowahu HR. Bukhari no. 73 dan Muslim no. 816).
Itulah rasa cukup, kekayaan yang mengagumkan. Dengan rasa cukup yang melimpah dalam hidup yang sebagaimana adanya (bukan yang seharusnya) kita bisa menemukan kehidupan berguna sekaligus pelayanan bermakna buat pihak lain. Keridhaan akan meraja di sini. Memang susah memulainya, apalagi memilikinya. Namun tak perlu ragu, setidaknya kita bisa mulai dengan doa sebagaimana yang Nabi SAW lantunkan; “Ya Allah berikan aku sikap qana’ah terhadap apa yang Engkau rizkikan kepadaku, berkahilah pemberian itu dan gantilah segala yang luput (hilang) dariku dengan yang lebih baik.” (HR al-Hakim, beliau menshahihkannya, dan disetujui oleh adz-Dzahabi). Mudah-mudahan kita bisa hidup berkelimpahan rasa cukup, diiringi keridhaan yang dalam sehingga hidup bergelimang kesyukuran, berjalan istiqomah di jalur kebenaran dan mati husnul khotimah. Amin.
SAPMB AJKH
salam, pf
Sumber: Nasehat LDII
Sementara saya tetap setia dengan langkah kedua kaki lincah ini. Muncul bayangan betapa indahnya bisa bersekolah dengan naik motor. Di samping keren, juga akan mendapat perhatian dan pemujaan dari khalayak. Termasuk lirikan dari lawan jenis. Siapa yang gak pengin? Memasuki dunia kuliah pun serupa. Tatkala diri ini masih seperti dulu, datang mahasiswa lain yang kuliah dengan roda empatnya. Bahkan sampai di dunia kerja pun tak jauh berbeda. Ketika diri mulai menjinjing kaki di pedal sepeda motor, yang lain sudah memanjakan kaki, melaju di sebuah mobil mewah atau deru motor gede barunya.
Begitulah kehidupan bertutur, selalu ada godaan yang mengelilingi manusia pada semua tingkatan, walau dengan varian yang berbeda. Orang selalu bilang, di atas langit ada langit. Tak ada habisnya. Yang miskin, yang menengah dan yang kaya, yang nganggur maupun yang kerja tak terkecuali. Tak ada yang kebal godaan. Pedagang, pengusaha, pegawai, pejabat, petani, tentara, supir, penekun spiritual sampai dengan tukang sapu, tidak sedikit kepalanya yang diisi oleh gambar-gambar hidup agar cepat kaya. Yang jelas, pilihan menjadi kaya tentu sebuah pilihan yang bisa dimengerti. Terutama dengan kaya manusia berpikir bisa melakukan lebih banyak hal. Sebaliknya, emoh menjadi miskin. Sebab miskin identik dengan penderitaan, kekurangan dan ketergantungan. Soal jalur mana untuk menjadi kaya yang akan ditempuh, pilihan yang tersedia juga amat melimpah. Dari mulai berdagang, jualan asuransi, ikut MLM, memimpin perusahaan, jadi pengusaha atau karyawan, sampai dengan jadi pejabat tinggi.
Itulah kesenangan hidup di dunia, sebagaimana Allah pesankan dalam KitabNya; “Dijadikan indah pada pandangan manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). “ (QS Ali Imron : 14). Gelombang pikiran – pikiran seperti itu akan selalu datang mengejar – ngejar manusia setiap saat. Di sisi lain, kesenangan – kesenangan itu selalu hadir menggelayut di bentang samudra angan, menebar pesonanya kepada setiap insan. Laksana hipnotis yang akan terus menyihir manusia untuk masuk ke dalamnya. Bahkan tak jarang jalan - jalan pintas menjadi pilihannya. Rumusnya; pengin instant: serba cepat gak mau lambat, pengin sesegera mungkin gak mau berlama - lama, pengin senang terus tak mau payah dan serba gampang gak mau sulit. Ya, kesenangan yang membujuk. Tak ada yang selamat, kecuali orang - orang yang eling lan waspada.
Sampai kapan pun, manusia akan terus diombang-ambingkan ombak kehidupan yang bernama keinginan. Sayangnya, banyak yang kandas. Apa yang diinginkan, lain dengan apa yang didapatkan. Alih – alih berpuas diri, malah makin menggila dan lupa diri; senang dunia dan takut akan mati. Oleh karena itu, para penekun kehidupan sering mengingatkan dengan elegannya akan bahaya kehidupan seperti ini. Ada satu hal yang banyak dilupakan orang yaitu pentingnya memiliki rasa cukup.
Dalam bahasa lain, seorang bijak dari timur pernah menganjurkan sebuah jalan kehidupan yang penuh dengan kedamaian, dengan mengatakan: contentment is the greatest wealt - rasa cukup adalah kekayaan terbesar. Tentu agak unik kedengarannya. Asing di telinga. Terutama di zaman yang serba penuh dengan hiruk - pikuk pencarian keluar. Menyebut rasa cukup sebagai kekayaan manusia terbesar, tentu dikira mengada - ada dan bisa dituduh gila. Padahal Kanjeng Nabi Muhammad SAW sudah berabad – abad lalu mengingatkan pentingnya memiliki rasa cukup ini untuk menghadapi dahsyatnya hantaman gelombang samudera kehidupan dunia. Rasulullah SAW bersabda: “Ridlalah dengan apa yang Allah bagikan buatmu, kamu akan menjadi orang terkaya”. (Rowahu Imam Turmudzi 3/377/2407). Apapun jika diliputi dengan rasa cukup, akan tampak luar biasa. Dalam riwayat lain, Rasulullah SAW bersabda: “alqana`atu maalun laa yanfadu wa kanzun laa yafnaa”. Artinya: “Qana`ah itu adalah harta yang tak akan hilang dan pura (simpanan) yang tidak akan pernah lenyap.” (Hadis dirawikan oleh Thabrani dari Jabir).
Banyak orang yang mengartikan salah - kaprah maksud rasa cukup di sini. Ada yang mengira menganjurkan kemalasan, ada yang menuduh sebagai antikemajuan. Dan tentu saja tidak dilarang untuk berpikir seperti ini. Hanya, bagi setiap pejalan kehidupan yang sudah mencoba serta berjalan jauh di jalur-jalur "cukup", segera akan mengerti, memang merasa cukuplah kekayaan manusia yang terbesar. Bukan merasa cukup kemudian berhenti berusaha dan bekerja. Sekali lagi bukan. Terutama karena hidup serta alam memang berputar melalui hukum-hukum kerja. Sekaligus memberikan pilihan mengagumkan, bekerja dan lakukan tugas masing-masing sebaik-baiknya, namun terimalah hasilnya dengan rasa cukup. Rasa cukup tak lain adalah perwujudan dari ridha sebagaimana hadits di atas.
Dan ada yang berbeda jauh di dalam sini, ketika tugas dan kerja keras sudah dipeluk dengan perasaan cukup. Tugasnya berjalan, kerja kerasnya juga berputar. Namun rasa syukurnya mengagumkan. Sekaligus membukakan pintu bagi perjalanan kehidupan yang penuh kemesraan. Dalam terang cahaya pemahaman seperti ini, rupanya merasa cukup jauh dari lebih sekadar memaksa diri agar damai. Awalnya, apapun memang diikuti keterpaksaan. Namun begitu merasa cukup menjadi sebuah kebiasaan, menjadi tabiat, terpatri, manusia seperti terlempar dengan nyaman ke dalam hening gelombang samudra kehidupan.
Boleh miskin, tetapi dengan memiliki rasa cukup yang berlimpah akan merasa syukur yang pol menjadi orang miskin. Istiqomah dengan jalan hidupnya dan bahagia sepanjang waktu. Kemiskinan bukan suatu beban, melainkan pilihan dari Yang Esa. Persis seperti apa yang dikatakan oleh sahabat Abu Darda ra., “Para pemilik harta makan dan kami juga makan, mereka minum dan kami juga minum, mereka berpakaian kami juga berpakaian, mereka naik kendaraan dan kami pun naik kendaraan. Mereka memiliki kelebihan harta yang mereka lihat dan dilihat juga oleh selain mereka, lalu mereka menemui hisab atas harta itu sedang kita terbebas darinya.” (Al-Qana’ah, mafhumuha, manafi’uha, ath-thariq ilaiha, hal 24-30, Ibrahim bin Muhammad al-Haqiil). Yang hidup menengah lagi pas – pasan pun demikian. Jika rasa cukup telah melingkupi, yang ada hanya syukur dan syukur menjalani kehidupan ini dengan riang - gembira. Ibadah mempeng, tirakat banter dan bekerja keras lagi dengan sungguh – sungguh. Rasulullah SAW bersabda; ”Sungguh beruntung (bahagia) orang yang ditunjukkan (diberi hidayah) kepada islam dan diberi rizqi yang pas-pasan dan menerima dengan hal tersebut”. (Rowahu Imam Muslim 2/730/1045; Tirmidzi 4/6/2452; Ibnu Majah 2/13/16/4138).
Adapun yang kaya, jika telah memiliki rasa cukup yang dalam, tak akan terpengaruh dengan kekayaannya. Rasa cukup menyetirnya untuk mengatur kekayaan di jalan – jalan kehidupan ini sesuai aturan dan petunjukNya. Tidak pelit, tidak boros, suka sedekah dan infaq fi sabilillah. Semua kewajiban dilaksanakan dan semua hak – haknya dipenuhi. Sampai – sampai orang pun iri melihatnya. Dari ‘Abdullah bin Mas’ud ra., ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tidak boleh hasad kecuali pada dua orang, yaitu orang yang Allah anugerahkan padanya harta lalu ia infakkan pada jalan kebaikan dan orang yang Allah beri karunia ilmu (Al Qur’an dan As Sunnah), ia menunaikan dan mengajarkannya.” (Rowahu HR. Bukhari no. 73 dan Muslim no. 816).
Itulah rasa cukup, kekayaan yang mengagumkan. Dengan rasa cukup yang melimpah dalam hidup yang sebagaimana adanya (bukan yang seharusnya) kita bisa menemukan kehidupan berguna sekaligus pelayanan bermakna buat pihak lain. Keridhaan akan meraja di sini. Memang susah memulainya, apalagi memilikinya. Namun tak perlu ragu, setidaknya kita bisa mulai dengan doa sebagaimana yang Nabi SAW lantunkan; “Ya Allah berikan aku sikap qana’ah terhadap apa yang Engkau rizkikan kepadaku, berkahilah pemberian itu dan gantilah segala yang luput (hilang) dariku dengan yang lebih baik.” (HR al-Hakim, beliau menshahihkannya, dan disetujui oleh adz-Dzahabi). Mudah-mudahan kita bisa hidup berkelimpahan rasa cukup, diiringi keridhaan yang dalam sehingga hidup bergelimang kesyukuran, berjalan istiqomah di jalur kebenaran dan mati husnul khotimah. Amin.
SAPMB AJKH
salam, pf
Sumber: Nasehat LDII



